bocah dengan kekuatan ajaib cerpenku.id
Cerpen Kritik Sosial

Bocah dengan Kekuatan Ajaib

Pemerintah sedang kalut. Para pejabatnya sedang berusaha keras agar bocah ini tidak bangun. Sebab, jika sampai bocah ini bangun, maka seluruh penduduk Desa Karang juga akan terbangun.

Bukan hanya manusia, seluruh benda hidup dan mati yang ada di desa ini juga akan ikut terjaga dari tidur panjangnya. Mayat-mayat yang sudah terkubur lama di dasar tanah tidak mau kalah. Dia juga akan ikut bangun. Tumbuh kembali seperti biji pepohonan. Lamat-lamat merabat seperti perdu dan tumbuh menjadi manusia lagi. Tak bisa dibayangkan jika itu terjadi. Bagaimana jika semua terbangun. Gunung-gunung, tetumbuhan, hewan, meja, kursi, daun-daun pintu, dan seluruh benda mati lainnya akan berjalan bersama manusia-manusia hidup dan mayat-mayat yang kembali terjaga dari kuburnya.

Maka menjadi tugas pemerintah agar bocah ini tidak terbangun, kalau perlu selamanya tertidur. Bagaimanapun caranya. Pemerintah tahu bocah ini memiliki kekuatan yang sangat dahsyat.

Kata orang-orang, bocah itu membawa pesan yang terlipat di pangkal lidahnya. Pesan itulah yang sekali diucapkannya akan mampu membangunkan seluruh benda hidup dan mati yang ada di desanya. Semacam pesan provokasi yang mampu menggetarkan jiwa dan batin setiap benda yang mendengarkan­­­¾dan semua pasti akan mendengarnya. Sungguh mengerikan jika itu terjadi. Karena itu, pemerintah akan berusaha keras agar anak itu tetap tertidur untuk selama-lamanya.

Anak itu sudah tertidur lebih dari satu generasi hidup manusia. Kurang lebih sekitar seratus tahun. Orang-orang yang hidup sekarang pastinya sudah tidak ada yang mengetahui bagaimana mulanya anak itu tertidur dan sampai sekarang. Dan entah dari mana asal bocah itu juga tidak ada yang tahu. Desas-desus tentang bocah itu hanya terdengar lamat-lamat. Tidak pasti dan tidak jelas. Ada yang menyebutnya anak itu muncul dari dalam gua yang tidak jauh dari desa setempat. Ada juga yang mengatakan, anak dibawa oleh seorang kakek, sesampainya di Desa Karang, kakek yang membawanya itu menghilang.

Dari dulu sampai sekarang, anak itu tidak pernah tumbuh dewasa. Organ-organ tubuhnya masih seperti dulu saat dia mulai tertidur. Raut mukanya juga tidak berubah. Masih seperti anak kecil usia lima tahun. Badannya mungil, kulitnya putih dengan segurat kecantikan di wajahnya, tapi laki-laki. Pipinya montok dan halus. Memiliki mata bulat dan hidung mancung dengan rambut tergerai hitam. Untungnya bocah ini tidak tumbuh dewasa. Sungguh pesan ketampanan yang membuat wanita jejeritan. Setiap orang mengaguminya. Apalagi, pasangan suami-istri yang sudah bertahun-tahun tidak dikaruniai buah hati. Ingin menjadikannya sebagai anak.

Orang-orang desa menamainya Sakuntala. Bukan tanpa alasan. Bocah ini memiliki riwayat yang hampir sama dengan kisah pewayangan dengan tokoh Sakuntala dalam kitab Adiparwa. Yang dikisahkan oleh seorang pertapa bernama Wiswamitra, yang dulunya merupakan seorang raja. Namun, kemudian meninggalkan kehidupan istananya karena ingin mendapatkan kejayaan seperti Begawan Wasistha. Tapanya sangat khusuk. Melihat kekhusukkannya dalam bertapa yang tidak tergoyahkan, Dewa Indra memberikan ujian dengan mengutus bidadari Menaka. Dikirimnya bidadari itu untuk menguji tapa Wiswamitra. Turunlah Menaka dari kayangan untuk menggoda sang pertapa.

Sesampainya di bumi, sang bidadari langsung menjalankan tugasnya untuk menggoda Wiswamitra. Wiswamitra tergoda. Nafsu berahinya muncul. Bidadari Menaka dihamili. Merasa tugasnya telah tertunaikan dan berhasil. Sang bidadari kembali ke kahyangan. Sementara Wiswamitra pergi meninggalkan tempat pertapaannya. Dia gagal akibat termakan nafsu berahinya. Sang bidadari yang telah mengandung janin dari sperma Wismamitra akhirnya melahirkan yang bayi di tepi sungai Malini. Terlahir sosok bayi perempuan yang sangat cantik. Lalu, ditinggallah bayi itu sendiri di tepi sungai, sementara sang bidadari kembali ke kahyangan.

Bayi mungil nan cantik itu kemudian dirawat oleh burung Sakuni. Begawan Kanwa yang sedang mencari bunga-bunga di sekitar sungai Malini terkejut melihat bayi tergelatak yang dirawat oleh burung Sakuni. Dipungutlah bayi itu, yang kemudian diberkahi, dipelihara, dan diberi nama Sakuntala.

“Nama Sakuntala itu diambil karena ada kemiripan cerita,” kata tetua desa yang kemudian menjadi cerita tutur dari mulut kemulut, dari generasi ke generasi sampai sekarang.

Kata tetua, anak itu telah memakan buah larangan yang ada di desa tersebut. Buah yang konon bisa membuat awet usia. Sempat ada yang melarang, tapi setiap kata yang akan terucap di depan anak itu, seketika kelu sejak di pangkal lidah. Itulah salah salah satu kehebatan yang terpancar dari sekian kehebatannya yang lain. Setiap kata-katanya tidak ada yang bisa membantah. Kata-katanya seperti petuah. Sekali terucap, maka semua akan mengamininya. Dan itulah yang ditakutkan pemerintah jika bocah itu terbangun. Katanya-katanya bisa membangunkan setiap yang tertidur dan mati untuk melawan kesewenang-wenangan pemerintah yang bersekongkol dengan pengusaha.(*)

 

Tuban, 26 Juli 2020

Dimuat Lembar Budaya Jawa Pos Radar Bojonegoro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *