Ilutrasi wanita
Uncategorized

Diplomasi Perang Genter dan Peran Seorang Perempuan yang Menjadi Rebutan

“Kertajaya, persyaratanmu kurang ajar dan keparat. Kau mau menukar nyawa orang-orang dengan kecantikan perempuan. Bagaimana kau mendapat pikiran seperti itu, he raja keparat?”

1

Di Ganter, pertempuran sengit antara Tumapel dan Kediri masih berlangsung. Sudah ribuan prajurit tewas. Dan langit menjadi jingga memantulkan darah. Ken Arok dan Kertajaya waspada di dalam kereta masing-masing. Dua puluh prajurit menjaga kereta Kertajaya. Ken Arok hanya delapan. Di dalam kereta, Ken Arok ditemani Ken Dedes, sedang di dalam kereta Kertajaya ada Dewi Amisani.

Ketika tiga buah anak panah sanderan lepas ke udara, perang berhenti. Mereka berempat keluar dari kereta dan berhadapan. Kertajaya sempat melirik pada tubuh Ken Dedes sebelum matanya menatap tajam pada Ken Arok.

“Ken Arok, kau memang perkasa. Tak kusangka, hanya dengan Tumapel dan rampok-rampok ingusan ini, kau obrak-abrik Kediri,” Kertajaya memulai.

“Aku menjalankan perintah para Brahmana dan kehendak rakyat. Kau tahu itu.”

“Korban sudah jatuh sangat banyak, Kakang Prabu. Perang harus segera selesai,” Amisani menyela.

“Aku sependapat,” sambut Ken Dedes, “Perang harus segera berakhir, Kakang,” Ken Dedes menggelayut pada lengan Ken Arok.

“Pendapat kalian memang tidak buruk. Aku bersedia menyelesaikan perang ini, bahkan menyerahkan Kediri bulat-bulat kepada Arok. Tetapi, aku punya satu syarat,” kata Kertajaya.

“Apa syarat itu?” sahut Ken Arok.

“Biarkan malam ini Ken Dedes aku tiduri,” Kertajaya terkekeh-kekeh.

“Keparat kau Kertajaya!” Ken Arok menghunuskan keris Gandring. Ken Dedes buru-buru menahan Ken Arok.

“Apa maksudmu, Kakang Prabu? Betulkah kehendakmu, Kakang? Tidak salah dengarkah aku?” Dewi Amisani menyeka matanya dengan selendang kuning yang sedari tadi menutup pundaknya.

Kertajaya tersenyum memandang ke arah mayat-mayat prajurit, “Aku tidak menyangka Dedes begitu cantik. Betul-betul cantik. Sungguh titisan dewi. Pantas Ken Arok membunuh Tunggul Ametung, pantas ada darah tumpah karena kecantikan seperti itu.”

Kertajaya mengarahkan pandangannya dan menudingkan telunjuknya kepada Ken Arok, “Dan kali ini, he Arok! Untuk kecantikan Dedes tidak akan ada darah yang tumpah dari tempatnya, juga tidak akan ada nyawa melayang lagi. Kecantikan Dedes akan menghentikan perang ini,” kata Kertajaya, “Kau tahu maksudku, Arok?”

Ken Dedes mengejang. Matanya tajam mengawasi Kertajaya, sedang Dewi Amisani sudah menangis tertahan-tahan menyembunyikan wajah di balik selendang kuning.

Di langit, dua ekor Gagak berkejar-kejaran.

“Kertajaya, persyaratanmu kurang ajar dan keparat. Kau mau menukar nyawa orang-orang dengan kecantikan perempuan. Bagaimana kau mendapat pikiran seperti itu, he raja keparat?” Ken Arok melototkan matanya.

“Orang Sudra seperti kau tidak mungkin mengerti, Arok. Walau banyak orang mengatakan kau titisan dewa. Kau tetap saja Sudra di depan hidungku. Dan Ken Dedes seorang putri Brahmana tidak pantas untukmu.”

Dua ekor gagak yang berkejaran di langit tadi menyalak keras bersama. Arok terkejut mendengar suara itu. Tapi dia lebih terkejut karena Kertajaya telah menghina martabatnya. Dia mendengus keras dan keris Gandring yang sedari tadi dihunusnya dimasukkan kembali dalam warangkanya, “Tak usah menghina asal-usulku, Kertajaya. Aku bersedia! Kuserahkan Ken Dedes padamu. Lihat, orang dari kasta Brahmana ini juga dapat dihinakan. Bukan hanya Sudra yang bisa hina. Brahmana juga dapat hina seperti ini,” ia mendorong Ken Dedes pada Kertajaya, “Tapi ingat, Kertajaya, sama sekali aku tidak menghinakan permaisuriku sendiri. Kasta yang selalu kau anggap mulia itulah yang sedang kuhinakan saat ini!”

Ken Dedes menangis tidak karuan oleh tindakan Ken Arok. Ia memandang sekejap pada Ken Arok sebelum ia digelandang masuk kereta oleh Kertajaya.

“Apa pikirmu sekarang, Dewi Amisani?” tanya Ken Arok pada Amisani yang ditinggallkan di tempatnya.

2

Malam datang. Perang telah berhenti. Di bilik raja, Dewi Amisani dan Ken Dedes duduk berseberangan di tepian ranjang, saling membelakangi.

“Kau memang cantik, Dedes. Tapi sayang sekali, kecantikanmu dapat dibeli,” ketus Amisani.

“Kau juga cantik, Amisani. Tapi juga sayang, kau dihinakan Kertajaya,” balas Dedes.

“Jaga mulutmu, Dedes.”

“Jaga pula bibirmu, Amisani.”

Dua-duanya berpaling, saling memandang.

Saat keduanya sedang bersitegang, Kertajaya datang. Kedua perempuan cantik itu kembali saling membelakangi. Amisani menunduk melihat lantai, sedang Dedes meremasi ranjang dengan jari-jarinya.

“Kau tidak perlu merasa hina di sini, Dedes,” Kertajaya mengambil duduk di samping Dedes, “Sekarang kau dengar kata-kataku,” Kertajaya menelan ludah menghirup aroma tubuh Dedes, “Kau memang cantik. Tapi aku tidak akan menidurimu. Jangan khawatir.”

Sontak Amisani berpaling memandang keduanya.

“Aku tidak akan menidurimu. Tadi siang hanyalah siasat. Perang Ganter memang terkutuk dan harus dihentikan. Aku memilih kau sebagai bayaran atas Kediri karena aku tahu Arok sangat mencintaimu. Arok akan percaya padaku bahwa aku akan menyerahkan Kediri setelah aku mendapatkanmu. Kau tahu apa maksudku?” tanya Kertajaya.

“Yang dapat kumengerti adalah Arok telah menjual aku. Dan kau membelinya dengan Kediri,” jawab Dedes.

“Tidak ada tempat untuk menjual perempuan di muka bumi ini, Dedes. Aku tidak akan menidurimu. Aku membawamu kemari hanya untuk membicarakan ini; Kediri kuserahkan pada Arok melalui kau. Itu saja.”

“Mengapa seperti itu?” tanya Dedes.

“Supaya kelak orang-orang mengerti, perempuan bukan hanya sumber peperangan, tapi juga sumber kedamaian,” jawab Kertajaya.

“Kau memang brandal, Kertajaya. Lantas, bagaimana sekarang?

“Besok pagi kembalilah kepada Arok dan katakan bahwa Kediri telah jatuh padanya. Seluruh milik Kediri jadi miliknya. Juga katakan, aku mengasingkan diri ke timur, Blambangan atau Lumajang.

“Padahal kau tidak akan pernah ke sana,” sahut Dedes.

“Kau cerdas, Dedes.”

Dewi Amisani yang sedari tadi diam, mulai bicara sambil menyeka matanya,” Sudahkah perbincangan itu, Kakang Prabu?”

“Sudah, Adinda.”

“Kalau begitu suruh Dedes supaya pindah ke ruangan lain.”

Kertajaya bangkit diikuti Ken Dedes. Pelan-pelan Kertajaya mengantarkan Dedes keluar ruangan. Dan di luar ruangan itu, Dedes telah disambut emban yang mengantarnya pindah ke ruangan lain.

Sementara Ketajaya dan Dewi Amisani telah berbaring di atas ranjang.

“Betapa mahal harga Ken Dedes. Negeri Kediri pun ditukar dengan kecantikannya,” Amisani menutupi wajahnya dengan selimut.”

“Amisani premaisuriku, kau tak dapat dibeli atau ditukar dengan apapun kecuali nyawaku sendiri.”

“Kau hanya pandai merayu, Kakang,” suara dari balik selimut.
Kertajaya tersenyum sendiri, “Sebentar lagi mari berkemas, Adinda. Kita harus meninggalkan Kediri sebelum fajar.”

“Akan mengasingkan diri kemana, Kakang Prabu?” wajah Amisani muncul dari balik selimut.

“Tidak boleh ada yang tahu, Adinda,” Kertajaya memejamkan mata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *