Lelaki Tak Tahu Malu “Tangan kanan Tuhan”
Cerpen Kritik Sosial

Lelaki Tak Tahu Malu “Tangan kanan Tuhan”

Ketahuilah kalian, ini kekeringan musim. Bukan kejahatan kasim

Ia kerap bertindak arogan. Ia sering kali berbicara anarkis dan selalu bisa berdalih dari hukuman. Bahkan sering kali hakim-hakim pengadilan mendapati kebuntuan saat di hadapannya. Bukan karena dia penguasa atau anak pemilik lahan. Tetapi karena dia tangan kanan Tuhan.

Dalil, keimanan, dan kitab suci sudah terlahap habis. Otaknya penuh kitab-kitab perundang-undangan. Pasal perpasal atau ayat-ayat perayat dari delik tindak pidana pencucian uang sampai kriminal sudah khatam ia kaji. Tak ada hal sulit baginya untuk beragumentasi. Karena tak ada perkara sulit di mata hukum. Kecuali orang-orang yang takut kebenaran.

Hari ini aku menemukannya, di halaman depan salah satu koran ternama untuk kesekian kali. Lelaki itu­-izinkan aku menyebutnya lelaki tak tahu malu- sering berbicara brutal menyuarakan idealisme. “PEMERINTAH TERLALU MULIA UNTUK BERBAGI” judul koran itu. Di cetak tebal dan nampak sangar. Lelaki itu membabat habis kebijakan pemerintah. Menguliti setiap pasal-demi pasal yang katanya demi kebaikan rakyat. Lelaki yang kusebut tak tahu malu itu, melempari kotoran ke muka pemimpin negeri. Di lakukannya secara terang-terangan.

“Dasar tak tahu malu,” grutukku melihat tampangnya di koran.

Gila bener orang itu pikirku. Tak ada gelar akademis. Tapi mulutnya seperti senapan. Kata perkata seperti timah panas. Kebijakan pemerintah mengenai bantuan sosial di anggapnya hanya kentut sapi. Untuk menutupi bau kotoran dan lalat basin yang hinggap.

Katanya rakyat lagi krisis kepercayaan bukan krisis pangan. Rakyat bisa makan cukup. Yang di butuhkan rakyat kepercayaan bukan pencitraan. Dan bla-bla dengan segala maha benar umpatannya.

“Ahhhh kurang ajar benar,” pekikku.

***

Siang ini aku baru pulang dari kebiasan rutin mengantar koran. Profesi yang sudah melekat dua tahun terakhir. Tak semua koran yang aku antar setiap pagi aku membacanya. Hanya sekali-kali saja jika judulnya menarik perhatian. Mungkin karena bosan juga, karena setiap harinya sudah melihat berita-berita yang membingungkan.

Sudah lama aku tidak mengujungi warung kopi dekat pelabuhan, aku menyempatkan diri untuk mampir. Terutama kangen ingin mendengar obrolan para juragan kapal atau nelayan yang bersandar.

“Si botak itu hari ini ngomong di koran kayak yang di TV kemarin.” Buka suara salah satu juragan bercelana pendek yang melingkarkan sarungnya di leher.

“Si botak yang kemarin memprotes kedunguan menteri itu?” sahut salah satu temannya.

Di tengah-tengah mereka aku hanya bisa diam. Padahal hati sudah ingin mengumpat “Itu lelaki tak tahu malu, sampah masyarakat. Ideologinya basi. Toh ujug-ujungnya bakal di bui kalau berani dengan pemerintah” batinku.

“Iya, gila bener tuh orang, gak takut di culik sama jin pemerintah. Tapi harus ada yang ngomong kayak gitu, biar pemerintah juga tahu.” Jawab bapak-bapak yang tadi.

“Dia ngomong gitu mungkin saja sudah gerah. Gerah miskin, gerah hidup kaya, atau mungkin saja gerah tidak mendapatkan jatah.” Sahut lagi salah satu temannya.

Penjual kopi yang dari tadi memperhatikan pembicaraannya mereka. Tiba-tiba keluar membawa satu piring penuh gorengan. Empat cangkir kopi hitam. Mungkin pahit tapi mereka sudah kebal pahit. Lebih tepatnya menimmati pahit berpura-pura manis.

“Saya kira si Lelaki itu punya kekuasan lebih. Bisa jadi tangan kanan Tuhan. Kelihatannya tidak ada urat ketakutan lagi,” ucapnya.

Semua mangut-mangut sepakat.  Justru aku semakin kesal. Lelaki tak penting itu di bahas di tongkrongan yang paling terpencil ini. Uhhh dasar lelaki tak tahu malu. Di sini sudah meracuni juga.

***

Terik panas jalanan kota. Suara musik penjual kaset. Deru lalu lalang kenalpot. Suara nyaring kondektur memanggil calon penumpang. Kepulan asap rokok tukang becak. Menjadi hiasan jalanan.  Kuparkir sepedaku. Melangkah menyusuri trotoar depan masjid agung. Belok kiri. Lurus. Pendopo makam. Kurebahkan punggungku. Melihat lalu para peziarah makam sunan boning yang begitu ramai. Maklum saja kamis sore, banyak peziarah luar kota yang datang.

Para peziarah yang telah selesai melakukan ritualnya banyak juga yang beristrihat di pendopo. Untuk melongarkan otot-otot yang tegang sehabis bersial sejam untuk ritualnya.

“Orang hitam, dekil, botak yang kemarin di TV sekarang viral di youtube dan media sosial.” Terdengar pembicaraan dari kerumunan bapak-bapak peziarah itu.

“Aku salut, dia berani. Memang sekarang negara butuh orang kayak gitu buat ngomong.” Sahut salah satu anggota krumunan.

“Negara ini demokrasi, dia berhak ngomong sesukanya asal tidak menabrak aturan.” Pukas seorang lelaki memakai peci putih berbaju koko putih.

Rombongan ibu-ibu peziarah yang mungkin salah satu anggota rombongan. Menyela diskusi bapak-bapak. “Orang gila, gak usah di bahas. Semua di Negara ini sudah gila.” Aku tepuk jidat. Di sini pun sudah teracuni pembahasan lelaki tak tahu malu itu. Bokongku terasa panas menguping pembicaran itu. Kupingku sudah penggar. Yang rencananya mau ziarah aku sudah tak bernafsu lagi. Aku bergegas. Keparkiran sepeda. Aku ingin segera lari ke kost. Merebahkan tubuhku yang letih berita lelaki tak tahu malu itu.

Belum juga jauh dari pendopo, seorang laki-laki berlari mendekatiku. Mas Sodron ternyata.

“Mas Kadrun, sepeda meledak. Di bakar orang gila,” ucapnya sambil nafas tersengal-sengal. Sudah tak kujawab lagi. Aku berlari bergegas menuju sepeda. Sepeda sudah hancur lebur. Tinggal kerangka dan kerumunan orang yang nampak keheranan. (*)

Oleh: Imam Sarozi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *