sparkler 677774 1920
Cerpen Kritik Sosial

Maharddhika: Sebuah Perayaan yang Hanya Dinikmati Orang Kota

Baru saja matahari pagi setinggi tombak, jalanan utama kota sudah penuh dengan warga yang berseliweran. Anak-anak kecil berlarian. Rumah warga dihiasi sedemikian rupa. Indah. Jalanan utama juga penuh dengan umbul-umbul dan bendera. Juga lampion yang digantung di atas jalan.

Tak lama kemudian sekelompok warga kota berkumpul sambil membawa alat musik. Mereka berbaris dan memainkan alat musiknya. Suara trompet, tabuhan drum, gitar dan instrumen musik lain saling bersautan menjadikan irama yang enak didengar.

Suara itu begitu keras, karena dimainkan dengan penuh semangat. Sehingga banyak mengundang masyarakat berdatangan. Mereka yang mendengar dan melihat tim musik itu ikut bersemangat.

Bukan satu kelompok saja yang memainkan musik ini. Hampir di setiap tempat fasilitas umum dan tempat berkerumun masyarakat selalu ada kelompok bermain musik.

Sebenarnya mereka bukan musisi asli. Mereka hanya masyarakat biasa yang bisa bermain musik dan ikut gegap-gempita dalam kemeriahan ini. Maklum saja hingga masyarakat ini begitu antusias. Ini merupakan hari Maharddhika bagi Kerajaan Nanhai, ini hari tepat 100 tahun lalu raja pertama Maharaja Soena yang dulu berhasil menundukan kerajaan ini yang dulu di bawah kekuasaan Raja Laun IV dari Dinasti Kauloun.

Dalam masa perebutan kekuasaan itu banyak cerita heroik yang dilakukan Raja Soena, dan hingga kini cerita itu berlanjut.

Ketika peringatan Maharddhika seperti saat ini selain rakyat bergembira, para Saradhadhu atau prajurit kerajaan juga terlihat lebih kalem. Saat mereka patroli keliling kota wajah mereka tampak sumringah, padahal biasanya mereka selalu memasang wajah garang. Rakyat selalu berpikir mengapa demikian, tapi kemudian pikiran itu berangsur lenyap karena terlalu biasa.

Di tengah semua kebahagiaan itu saya dan sahabatku memilih untuk berlibur ke Kota Bluerno. Lokasinya sekitar lima jam dari Ibu Kota. Saat mulai perjalanan dan melewati jalan kota. Hampir semua sudut kota hampir sama. Mereka memakai pakaian bagus dengan berbagai hiasan kota yang menandakan kemakmuran.

Setelah kereta kuda yang saya tumpangi semakin jauh meninggalkan pusat kota, semakin menghilang juga suara gegap gempita itu. Saat memasuki daerah pedesaan dekat kota kembali ada keramaian, tapi tak seramai di kota.

Di desa ini hanya ada satu titik keramaian. Setelah meninggalkan desa ini dan sampai di desa yang sangat jauh dari kota ternyata di sini tak ada pesta layaknya di kota atau desa pertama tadi. Di desa ini sepi, rumah-rumah tertutup.

Padahal matahari belum berada di atas kepala. Saya pun merasa heran mengapa mereka tak melakukan perayaan. Maklum, ini merupakan perjalan saya sampai keluar Ibu Kota.

Saya dan sahabatku pun turun dan mencoba mencari tahu. Dari sekian rumah yang tutup dan sepi itu, seorang ibu-ibu paruh baya dengan memakai camping dan membawa parang menutup rumah dan hendak ke ladang. Kepada Ibu itu kami bertanya dimana semua warga desa. “Mengapa desa di sini sepi bu, apakah tidak ada perayaan di sini?” tanyaku dengan penuh penasaran.

Sebab, bagi kami yang hidup di perkotaan menjadi hal aneh.
Dengan senyum tipis sambil membawa topi, ibu itu balik bertanya. “Anak muda, kalian dari kota ya?” tanyanya dengan nada mengejek.

“Begini anak muda, kami di pedesaan sibuk dengan mengurus tanaman kami di kebun. Kami juga harus memberi makan hewan ternak kami. Kami juga harus mencari bahan makanan seperti sayur dan lauk pauk dari hutan dan perkebunan kami untuk persediaan makan esok hari dan beberapa hari berikutnya. Belum lagi kami harus menyiapkan hasil ladang kami yang akan kami jual ke kota. Jadi, kami sangat sibuk. Kami tidak ada waktu berpesta dan peringatan Maharddhika seperti di kota. Kami tidak bisa seperti orang di perkotaan sana, mereka terdiri dari pegawai kerajaan, kota atau pegawai pertokoan dan pedagang. Mereka punya hari libur. Bagi orang desa hari libur orang kota adalah hari kerja kami,” ujarnya yang sekilas seperti curhat, tapi di sisi lain terasa nada sindiran.

Bagi ibu itu dan warga desa lain, hari yang merupakan kami anggap hari kebebasan itu hanya sekadar nama. Buktinya, mereka tetap bergelut dengan kesibukan sehari-hari.

Akhirnya, ibu itu berucap permisi. Melanjutkan perjalannya menuju ke ladang–membawakan makanan bagi suaminya.

Jawaban ibu tadi membuat saya terus berpikir–mengapa bisa begitu. Begitu jauhkah kesenjangan tentang anggapan Maharddhika itu sendiri bagi semua rakyat di kerajaan ini.

Tak jauh dari saat saya bertemu ibu tadi, saya berhenti beristirahat. Untuk memberi minum dan kuda yang kutunggangi. Karena tujuanku untuk sampai ke rumah saudaraku di Kota Bluerno masih cukup jauh. Paling tidak siang saat matahari condong ke barat baru sampai.

Saat menunggu kuda minum dan makan, saya dan sahabatku berhenti di sebuah warung, kami pesan minuman. Sambil penjual menyiapkan minuman saya iseng-iseng kembali bertanya bagaimana desanya begitu sepi. Apakah semua warga ke ladang. Ternyata sang penjual dengan suara yang pelan mengatakan, bahwa hampir semua warga di sini petani. Mereka hidup dari semua hasil ladangnya. Tapi akhir-akhir ini petani sering mengeluh karena Baltanah atau obat agar tanaman subur semakin sulit dicari. Memang selama Dinasti Soena ini berkuasa mempunyai program peningkatan bahan pakan. Itu menjadi komoditas yang dijual di kerajaan lain. Maka tak heran kerajaan ini diperebutkan karena tanahnya yang subur. Hanya setelah adanya Baltanah rakyat semakin ketergantungan.

Kemudian saat masa kepemimpinan Raja Nuswa Soena atau raja yang berkuasa sekarang, Baltanah menjadi langka. Kalau pun ada harga Baltanah sangat mahal. Sehingga rakyat hanya bisa mengeluh. Menurut penjual, bukan itu saja. Ternyata hasil ladang petani yang di jual di kota atau pedagang kota ke desa hanya memberi harga murah. Jadi, ibarat kerja keras mereka tak dihargai.

Mendengar cerita itu saya hanya bisa terdiam dan geleng-geleng. Semua ini bertolak belakang dengan ada di kota yang terkabar selalu berita baik tentang pencapaian sang raja.

Saat saya tanya apakah rakyat di sini tak mengajukan protes atau menuntut keadilan. Menurutnya, mau kemana rakyat kecil ini akan protes. Kalau protes siapa yang akan mendengar? Apalagi, saat nekat akan ke kota sambil membawa orang banyak, tak perlu lama-lama Saradhadhu akan membubarkan kelompok warga itu. Bisa-bisa dianggap upaya melawan pemerintahan sah dan bisa sampai dijebloskan ke tahanan. “Kami di sini tak mau kehilangan keluarga kami, kami tak berdaya,” ujar penjual di warung dengan menyuguhkan pesanan kami.

Perbincangan kami berlanjut. Tapi saya tak menyingung soal warga di desa ini atau petani lagi. Saya lebih bertanya tentang jalan ke Kota Bluerno.

Setelah melihat matahari semakin tinggi akhirnya saya dan sahabatku melanjutkan perjalanan. Matahari juga sudah sampai di atas kepala dan cahayanya sangat terik dan panas. Tapi dari kanan kiri jalan yang merupakan persawahan terlihat petani ada di sana. Mereka seperti tak merasakan panasnya matahari siang ini.

Melihat itu semua aku hanya berpikir, apakah tak ada apresiasi dan kemudahan untuk mereka. Padahal pejabat dan raja memakan beras dan makanan lain kucuran keringat para petani ini. Lagi-lagi aku hanya bisa menghela nafas panjang dan berkata dalam hati.

“Saat kerajaan mengatakan ini hari Maharddhika, lalu apakah mereka sudah memberikan ke Maharddhiaan untuk semua petani, ini sangat ironis,” gumamku dengan nada kesal sembari pandangi langit yang tanpa awan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *