Cerpen Sumber Air
Cerpen Kritik Sosial

Memperjuangkan Sumber Mata Air

Hadi merasa masygul dan kecewa. Keluhannya soal sumber mata air yang berubah payau di desanya tidak pernah didengar pejabat kabupaten. Entah sudah berapa kali dia mengadu berharap ada solusi dari pemerintah, namun selama itulah harapannya selalu pupus. Tak ada pejabat yang mendengar keluhannya. Dia bukan siapa-siapa. Hanya pemuda desa yang berusia 24 tahun. Tiap harinya bertani, mencangkul. Kadang kala juga mburuh. Apa saja, dan kepada siapa saja yang membutuhkan tenaganya. Dia juga hanya lulusan Madrasah Aliyah (MA), setingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Mungkin karena itulah aspirasi dan keluhannya tidak didengar. Dianggap tidak penting oleh pejabat kabupaten. Buang-buang waktu melayaninya.

Terhitung sudah hampir sembilan bulan dia memperjuangkan nasib sumber mata air di desanya yang berubah payau. Asin. Tidak peduli apakah keluhannya digubris oleh pejabat kabupaten atau tidak. Tidak peduli juga dipimpong ke sana-kemari. Dari pejabat satu ke pejabat yang lain, dari dinas satu ke dinas yang lain. Tidak peduli. Dia akan terus berjuang. Karena dia percaya dari sekian pejabat yang brengsek, masih ada pejabat yang baik dan mau memikirkan nasib rakyatnya. Entah seribu satu atau seratus ribu satu, atau sejuta satu. Dia masih percaya itu.

Hadi tidak pandai berorasi. Tidak juga dalam hal lobi. Dia hanya pandai menulis. Mengolah kata. Mengabarkan kesedihan dan penderitaan rakyat dalam sebuah tulisan. Besar harapannya, cerita pilu yang ditulis dengan balutan kesusahan rakyat akibat sumber mata air yang berubah payau itu bisa menyentuh hati pejabat kabupaten. Tentu, dengan solusi yang bisa diberikan. Namun, semua itu sia-sia. Surat-suratnya tidak pernah ditindaklanjuti. Jangankan ditindaklanjuti, dibalas pun tidak. Bahkan, mungkin juga tidak dibaca. Dibuang begitu saja, mungkin juga.

Hadi masih menyimpan satu surat yang belum dikirim. Sengaja sejak awal tidak dikirim. Semua itu dilakukan untuk menghargai prosedur sebagai fatsun yang harus dihargai. Dan, semua jalur prosedur sudah dilalui. Dari tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten. Mulai kepala desa, camat, sampai kepala-kepala dinas yang terkait dalam penanganan lingkungan. Namun, prosedur yang dilalui itu seperti percuma. Tidak ada pejabat yang peduli. Akhirnya dia sadar, modal sopan santun tidak membuat pejabat memandangnya. Jangankan memandang, melirik pun tidak. Malah ditertawakan, iya. Tetapi dia enggan mengumpat, meski dalam hatinya ingin mengumpat dengan keras: Pejabat brengsek.

Surat terakhir itu adalah untuk bupati. Sudah lama dia menulis surat itu. Tapi selalu diurungkan niatnya saat hendak berkirim ke Pendapa, rumah dinas bupati. Tapi untuk kali ini tidak. Dia berpikir, mungkin ini saat yang tepat untuk mengirim surat tersebut. Segera dia bangkit dari tempat duduknya, di warung kopi langganannya, Mbok Sri. Niatnya sudah bulat untuk berangkat ke Pendopo. Meski hanya pemuda desa yang miskin akan pendidikan dan pengalaman, tapi dia adalah orang Jawa yang tahu sopan santun. Tahu bagaimana cara beretika di depan pejabat. Tata cara hendak bertamu ke kantor pejabat pun dia paham.

Seperti biasa, saat hendak menunaikan langkahnya, tujuan pertamanya adalah rumah sahabatnya, Roji.

“Ji, aku nyileh baju hem-mu yo,” katanya kepada Roji, teman ngopinya. Roji sudah tahu maksud dan tujuan Hadi. Dalam diamnya dia juga memantau apa yang sedang diperjuangkan Hadi selama ini. Kadang kala dia juga malu melihat kegigihan Hadi dalam memperjuangkan sumber mata air yang ada di desanya. Meski mengenyam pendidikan yang lebih baik ketimbang Hadi, sebagai anak kuliahan, Roji tetap saja tidak memiliki keberanian seperti yang diperjuangkan Hadi. Lebih tepatnya sebuah tekad idealisme. Namun begitu, dia selalu mendukung setiap langkah yang dilakukan Hadi. Apapun itu.

“Yang warna apa?”

“Apa saja, yang penting pantes.”

“Celana sekalian?”

“Oh, iya lupa. Celana juga, masak mau ke Pendopo pakai celana  buat ke sawah.” Segera Roji masuk dalam, menuju kamarnya, mengambil baju dan celana yang dibutuhkan Hadi. Hadi menunggu di luar, di selasar rumah.

Dengan senyum tipisnya Roji keluar membawakan seperangkat baju hem dan celana. Hadi menyambut dengan tawa kecil.

“Sepatunya tidak sekalian?” Roji menawarkan lengkap dengan sepatu. Selain usianya yang hampir sama. Hanya terpaut setahun. Lebih tua Hadi. Namun, untuk ukuran baju, postur keduanya hampir sepadan. Tingginya juga hampir sama. Hanya Hadi lebih kurus dari Roji.

“Nek sepatu wes nduwe Ji, hahahaha….” Kedua pemuda desa yang seumuran itu tertawa bersama. Terlebih Hadi. Seperti tidak ada beban dalam hidupnya. Itulah sosok pemuda berambut kriting itu. Hadi mampu membalut segala beban yang ada di pundaknya dengan balutan ke-santainan. Baginya, segalanya akan terasa mudah jika mampu dilakukan dengan bahagia. Dengan kegembiraan.

“Selamat berjuang Had.” Roji memberikan semangat.

“Suwun Ji, hahaha….” Itulah Hadi. Setiap langkahnya selalu terselip tawa. Baginya, dukungan moril yang diberikan sahabatnya itu sudah cukup.

***

Pagi mulai beranjak siang. Sekira pukul sepuluh Hadi bersiap berangkat. Menuju Pendopo. Jika nasibnya mujur surat akan terima langsung oleh bupati, jika nasibnya apes, surat akan dititipkan ke Ajudan atau staf sekretariat.

Mengenakan pakaian rapi, celana kain, hem lengan pendek bergaris biru dengan warna dominan putih, lengkap dengan sepatu pantofel yang sebagian sisinya mulai mengelupas. Kusam, tapi terawat. Itulah satu-satunya sepatu yang dimiliki Hadi, yang dibelinya dua tahun lalu di Pasar Malam. Niatnya untuk mencari kerja, tapi tidak kunjung dapat. Pintu-pintu perusahaan yang ada di kotanya sudah diketuk. Tetapi lamarannya selalu di tolak dengan alasan klasik: Yang dibutuhkan adalah lulusan S-1, bukan S-3 (SD, SMP, SMA). Ah, sudahlah… mungkin takdirnya tidak ada catatan sebagai pegawai perusahaan. Tapi cukup menjadi petani.

“Mau kemana, Mas?” tanya petugas Satpol PP sesaat setelah motor yang dikendarainya berhenti tepat di pos penjagaan.

“Mau mengantar surat untuk Pak Bupati,” jawabnya santai, tapi tegas. Memosisikan sebagai pemuda berpendidikan dan berpengalaman, meskipun dalam hatinya masih merasa takut. Karena seumur-umur baru kali ini dia masuk ke Pendopo.

“Dari mana dan keperluannya apa, Mas?” Petugas Satpol PP itu seperti menginterogasi. Lagi-lagi dengan dalih prosedur keamanan. Dalam benaknya Hadi berguman: Prosedur Palsu.

“Dari Desa Karang, Pak, hanya ingin mengantarkan surat untuk Pak Bupati,” katanya dengan nada meyakinkan.

“Ya sudah, silakan sepeda motornya di parkir dulu di sana, setelah itu silakan masuk ke dalam,” kata petugas Satpol PP sambil menunjukkan lokasi parkir. Di lokasi parkir itu sudah banyak berjajar sepeda motor. Dari sekian banyak sepeda motor yang terparkir, hanya motornya yang paling jelek. Meski begitu, dia pede saja. Karena kelak yang dinilai Tuhan bukan harta atau tahta, tapi amal kebaikan. Dia berusaha menata mentalnya sendiri agar tidak ngedown. Meski sebenarnya juga melas.

Dalam setiap langkah kakinya menuju kantor Bupati, dia mengagumi setiap keindahan taman Pendopo. Rasanya seperti sedang di surga, menikmati setiap taman yang tertata rapi dengan bunga-bunga indah. Semilir angin terasa amat sejuk dengan percikan-percikan air dari air terjun buatan. Pepohonan rambutan dan klengkeng yang sedang berbuah memanjakan lidah. Ingin rasanya memetik. Mengupasnya lalu memakannya. Tapi tidak berani.

“Assalamualaikum,” katanya mengucapkan salam kepada para pegawai sekretariat Pendopo yang ada di dalam.

“Waalaikumsalam. Silakan masuk.” Salah satu dari pegawai yang ada di dalam ruang sekretariat menjawab. Nada suaranya seorang perempuan. Mempersilahkan masuk. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Hadi memberanikan diri untuk membuka pintu. Tidak bisa. Pintu sulit dibuka. Terasa seperti dikunci dari dalam. Ditariknya kuat-kuat masih juga tidak bisa. Pikirnya: Piye carane mbuka lawang iki. Dia diam sejenak, dan tiba-tiba pintu terbuka dari dalam.

“Didorong, Pak, bukan ditarik,” kata salah satu staf yang menolongnya membukakan pintu dengan senyum tipis. Mungkin batinnya: Iki wong ndi yo, mbuka lawang ae gak iso. Hahaha…

Hadi yang sedari tadi di depan pintu seperti tidak menahan malu. Batinya: Jangkrik, isin aku. Hahaha…

“Ada yang bisa dibantu, Mas?”

“Ngapunten, Pak Bupatinya ada?”

“Bapak dari mana?” Kali ini Hadi dipanggil dengan sebutan bapak. Perasaannya makjleb. Duh…! masak saya sudah setua itu. Apalagi, yang bertanya staf perempuan. Masih muda dan cantik pula. Hadi mencoba untuk tetap tabah.

“Saya dari Desa Karang, Bu. Jika diperkenankan ingin ketemu Pak Bupati.” Hadi menjawab dengan santun.

“Ada perlu apa ya?”

“Sebenarnya hanya ingin menyampaikan surat untuk beliau. Tapi, kalau diperkenankan, saya ingin bertemu beliau. Ingin menyampaikan secara langsung, sekaligus bercerita kepada beliau soal kondisi sumber mata air yang ada di desa saya.” Kali ini Hadi semakin santun. Wajahnya sedikit tertunduk dengan tatapan mata iba. Berharap rasa inginnya bertemu langsung dengan Bupati terkabul. Tapi lagi-lagi rasa inginnya pupus.

“Bapak lagi dinas di luar kota,” jawaban dari staf itu langsung membuat Hadi lemas. Pasrah.

“Ya udah kalau gitu Bu, saya titip surat ini saja,” katanya memelas.

“Iya Pak, nanti saya sampaikan ke Bapak,” jawab staf perempuan tadi. Setelah mendapat jawab tersebut, Hadi langsung pamit undur diri. Jalannya lunglai. Lemas. Tidak bisa bertemu langsung dengan bupatinya. Padahal, ingin sekali rasanya bertemu langsung dan mengungkapkan segala keresahannya atas kondisi sumber mata air yang ada di desanya. Namun begitu, dia merasa lega. Suratnya sudah sampai ke kantor bupati. Semoga saja suratnya segera sampai ke tangan beliau, dibacanya surat itu dan langsung ditindaklanjuti. Amin…

***

Satu minggu sudah berjalan. Belum ada tanda-tanda suratnya akan ditindaklanjuti. Sabar. Satu bulan, dua bulan, tiga bulan, empat bulan, sampai lima bulan, masih belum ada kabar bagus. Sampai-sampai terkadang dia lupa kalau pernah berkirim surat ke bupati.

Hadi kali ini gelisah, tapi masih terselip senyum tipis di bibirnya. Roji tahu kalau sahabatnya gelisah, meski selalu berusaha disembunyikan.

“Kenapa Lur…?” Roji berusaha ingin tahu kegelisahan sahabatnya itu.

“Gak kenek popo Ji.” Hadi tetap berusaha menyembunyikan perasaannya.

“Ngomong saja Lur, mungkin aku bisa bantu.” Roji menawarkan bantuan.

“Kamu kan sudah tahu apa yang saya perjuangkan selama ini toh, Ji. Aku sudah kesana-kemari. Berkirim surat dari desa, ke kecamatan, ke dinas, sampai ke bupati. Keluhanku warga soal sumber mata air yang ada di desa kita sudah saya sampaikan kepada mereka, pemangku kepentingan, pemangku kebijakan. Tapi tidak pernah ada jawaban, Ji. Terus awak dewe iki kudu piye, Ji.” Hadi terbawa perasaan. Segala keresahannya dicurahkan kepada sahabatnya. Sahabat yang selama ini selalu membantunya. Meminjamkan baju dan celana.

“Sabar Lur, perjuangan belum selesai.” Roji berusaha menguatkan mental sahabatnya. Meski dalam batinnya juga merasa malu. Sungguh-sungguh malu. Karena mestinya dialah yang berada di garda terdepan dalam memperjuangkan sumber mata air yang ada di desanya. Bukan Hadi, yang hanya lulusan SMA. Tanpa bermaksud merendahkan sahabatnya.

“Sekarang kita ngopi dulu. Ayo kita bahas bareng-bareng. Mungkin aku bisa bantu.” Roji melanjutkan pembicaraan. Kali ini dia benar-benar ingin membantu Hadi.

Strategi mulai disusun dari awal lagi. Kegagalan adalah sukses yang tertunda. Kali ini kita gagal. Mungkin esok akan berhasil. Percaya. Kedua pemuda Desa Karang itu akhirnya bersepakat untuk berjuang bersama-sama. Memperjuangkan nasib sumber mata air yang ada di desanya. Dan, perjuangan masih akan terus berlanjut.(*)

 

Tuban, 5 Juli 2020

Sumber: Lembar Budaya Jawa Pos Radar Bojonegoro

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *