Pejabat Yang Tak Miliki Empati
Cerpen Kritik Sosial

Pejabat Yang Tak Miliki Empati

Pagi itu mentari terbit dengan hangat dan ramah. Sinarnya seakan masih malu-malu untuk menyentuh segala yang hidup di atas muka bumi. Tadi malam mulai Isyak kota ini diguyur hujan deras hingga reda sehabis waktu Shubuh tiba. Orang-orang tidur menarik selimut. Dan, pagi ini mereka seakan malas melipat selimut untuk memulai aktifitasnya. Pagi ini sungguh paripurna untuk kembali terlelap atau mengisi pagi dengan bermalas-malasan.
Pada pagi yang hangat dan ramah ini, di salah satu sudut kota ada situasi yang berbeda. Tepatnya disebuah kursi meja salah satu warkop yang masih tutup.

Nampak seorang pemuda yang matanya tak memperlihatkan rasa kantuk seperti orang-orang lain kala menyambut pagi yang hangat dan ramah ini. Sorot matanya tajam, tapi kantong matanya tak sanggup berbohong. Kantong matanya tebal, khas orang-orang yang kurang tidur. Di atas telapak kiri tangannya ada sebuah buku sketsa berukuran A4, lalu tangan kananya terlihat sibuk menggoreskan pensil di atas buku sketsa itu. Di atas meja pemuda tanggung tertera empat cangkir kopi yang sudah tinggal ampasnya. Sebungkus rokok di samping cangkir kopi itu juga sudah tidak ada isinya.

Dari kejauhan salah satu kawan pemuda itu datang menghampirinya, namanya Dirman. Ia seorang mahasiswa ekonomi. Setelah sepeda motornya diparkir, Ia langsung menyapa kawannya yang nampak sungguh kusut itu.
“Bud, kamu masih di sini? Belum pulang dari tadi malam?”
“Iya, memang belum pulang.”
“Terus kamu sama siapa? Bukannya yang terakhir sama kamu tadi malam aku?”
“Memang benar Dir.”
“Terus kamu sendirian sampai sekarang.”
“Iya, betul Dir.”
“Aduh ngapain aja sih kamu Bud, emang dasar kurang kerjaan, malam dengan hujan deras seperti tadi malam itu enanknya pulang ke kos, tidur istirahat bud. Bukan malah begadang sampai pagi seperti ini. Itu kopi sudah nambah dua cangkir lagi berarti sudah habis empat cangkir kopi pahit kamu selama di sini. Rokok juga sudah nambah satu bungkus lagi, lihat ini keduanya juga sudah habis isinya, gila kamu Bud semalam saja habis empat cangkir dan dua bungkus rokok. Bisa-bisa mati muda kamu Bud, kena serangan jantung. Apa kamu punya hasrat untuk jadi bagian dari club 27? Yang tempo hari kau ceritakan itu? Percuma Bud, kamu beda, karyamu belum mendunia seperti Kurt Cobain atau Jimi Hendrix. Paling kalau kamu mati muda yang mengenang ya cuma aku dan teman ngopimu yang lain.”
“Ah kamu pagi-pagi udah kebanyakan ngomong dan ngigau Dir, siapa juga yang punya hasrat mati umur 27, mati muda pun aku enggan, aku mau hidup seratus tahun lagi, tentunya jika bersama Naning,” katanya lantas tertawa. Hahaha…

“Memang kamu sudah mulai agak gila Bud. Kamu itu yang sedang ngigau, omonganmu ngelantur nggak bakal mau Naning sama lelaki model kamu seperti ini.”
“Ah sudahlah Dir, masih pagi sudah banyak omong saja kamu, pesan kopi sana. Itu Bu Yanto udah buka. Eh nitip, aku kopi pahit satu cangkir lagi, sama rokok eceran satu bantang saja jangan lupa ditulis dibon. Hahaha.”
“Ah dasar orang gila kamu Bud.”

Saat Dirman berlalu memesan kopi, Budi pun mulai memandangi hasil karyanya dari separuh malam tadi, sebuah sketsa orang berpakaian rapi lengkap dengan jaz, dasi, celana panjang, sepatu pantofel, jam di tangannya, dan tak ketinggalan pin bendera di atas dadanya. Yang mebuat ganjil adalah sosok ini punya dua kepala, satunya berwajah cakep dengan potongan rambut stylish nan rapi. Di sisi yang lain kepala satunya bertampang babi dengan lidah menjulur keluar. Di sekitar sosok tersebut dipenuhi dengan sketsa-sketsa mobil-motor mewah, rumah megah, piringan hitam beserta pemutarnya, keris dan tombak, bingkai-bingkai lukisan, gelas, mangkok, dan guci kuno, di samping kanan kiri dan depan sosok berkepala dua tersebut pokoknya dipenuhi dengan barang-barang mewah dan kuno yang punya kesan mahal. Diantara kepala sosok berkepala dua tersebut Budi juga menambahkan sebuah tulisan yang ia arsir tebal, “leiden is lidjen”.

Dari dalam warung kopi terlihat Dirman keluar membawa dua buah cangkir kopi ditangannya, belum sampai di kursi dan meja semula, Budi sudah berteriak.
“Dir cepat kesini, ku perlihatkan hasil sketsaku.”
“Gambar apa ini Bud kok lucu? Siluman Babi yang berhasil menuai kesuksesan. Hahaha.”
“Lihat tulisan diantara kedua kepalanya Dir. Semalam muncul sebuah kegeraman yang sangat hitam dalam jiwa dan tubuh ini, melihat para wakil rakyat dan pejabat republik ini gemar menyimpan dan megoleksi barang-barang yang tidak penting amat, yang selangit harganya, dengan percaya diri mereka memperlihatkan di sosial medianya masing-masing. Apa ndak malu mereka? Diberbagai tempat di negeri ini masih banyak masyarakat melarat yang sebenarnya mereka adalah majikannya, masih sering mengganjal perutnya karena terpaksa, karena keadaan. Pikirkan ini Dir, gaji seumur hidup salah satu tukang bersih-bersih rumahnya saja tak mungkin mampu membeli salah satu barang koleksi yang tak penting-penting amat itu.”

“Lo Bud, itu kan uang mereka, jadi haknya dia toh mau digunakan untuk apa”.
“Mereka digaji dari uang rakyat dari pajak yang dibayarkan rakyat, dari hasil bumi negeri ini yang diperdagangkan, tak elok sebenarnya mereka hidup model seperti itu. Apa mereka tak pernah mendengar kisah hidup Agus Salim dan Moh. Hatta? Dan, tokoh pendahulu lainnya?”. Agus Salim wafat sebagai kontraktor alias hidup disebuah rumah kontrakan alias tidak punya rumah sampai akhir hayat. Begitu pula Bung Hatta, Ia memimpikan punya sebuah sepatu bally, tapi hingga akhir hayatnya pun hanya guntingan iklan sepatu tersebut yang tinggal di dalam dompetnya, sepatu ballynya tidak ada, belum mampu terbeli hingga akhir hayatnya.”

“Dir, negeri ini dimulai oleh pemimpin-pemimpin yang penuh dengan kebersahajaan dan kesederhanaan, lalu kini dilanjutkan oleh ketamakan-ketamakan yang berwajah sopan.”
Saat Budi bacara demikian, dirman tak mampu menimpali satu pun perkataannya. Dirman hanya terdiam dan tertegun.
Setelah selesai bicara, Budi pun langsung menghabiskan segelas kopi pahit dalam satu tenggakan, lalu ia mengemasi barang-barangnya.
“Eh mau kemana Bud?.”
“Pulang ke kosan Dir.”

Budi pun langsung mengongkel stater sepeda Shogun kebonya, ia langsung melaju. Di tengah perjalanan ia berhenti pada sebuah toko photo coppy, ia memperbanyak sketsa tersebut menjadi beberapa lembar, lalu ia mampir ke kampus, ia tempelkan sketsa tersebut di depan pintu keseketaritan Hima dan BEM, lalu ia berjalan menuju ruang Dekan, ia tempelkan juga sketsa tersebut di atas pintu ruang Dekan. Setelah itu ia berjalan kembali, ia belum puas, menuju gedung lain, gedung rekotorat, ia tempelkan pula sketsa tersebut di atas pintu ruangan Rektor. Pada waktu itu memang masih sangat pagi, jarum jam belum tepat berdiri diatas angka enam, kampus masih sangatlah sepi, belum ada hiru pikuk padat di lingkungan kampus, sehingga budi pun tidak menemui hambatan dalam menempelkan sketsa-sketsa tersebut. Mungkin setalah ini sketsa-sketsa tersebut akan dibersihkan petugas kebersihan, tapi dalam hati kecil budi masih ada suara yang lain, masih ada tersimpan sebuah keyakinan, mungkin saja ada petugas kebersihan yang nalar kritisnya hidup, lalu membiarkan sketsa tersebut tertempel diatas pintu-pintu tersebut sampai terbaca oleh penghuni ruangan-ruangan itu, ia tertawa kecil dalam hatinya.

Budi lanjut menuju parkiran motornya, sketsa itu masih tersisa beberapa lembar ia sebenarnya ingin melanjutkan perjalanannya menuju kantor DPRD dan kantor Bupati untuk menempelkan sketsa tersebut diatas pintu-pintu pejabat daerah. Tapi niat itu ia urungkan, nalarnya masih hidup ternyata, bagaimana bisa ia bisa masuk gedung-gedung tersebut dengan penamapilan kusut seperti inI. Masuk gerbangnya saja ia paling sudah dicegat petugas pengamanan. Budi pun akhirnya hanya lewat depan dua kantor besar dan megah itu, dengan tersenyum ia memandangi dua gedung tersebeut.

Setelah lewat dua gedung itu, budi masih mengendari sepeda motornya, ternyata ia menuju sebuah semanjung kota, ia berlari sekecang-kencangnya menuju ujung semenanjung. Setelah sampai di ujung semenanjung, dengan nafas yang tersengal-sengal, ia merapatkan kedua tangannya disisi kanan dan kiri ujung bibirnya, dengan sepenuh tenaga ia berteriak sangat lantang, sangat kencang, “Tuhan aku tidak siap jadi pemimpin, tapi bimbing aku menjadi menderita”.

Tuban, 7 Juli 2020

Sigit ST

One Reply to Pejabat Yang Tak Miliki Empati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *