WhatsApp Image 2020 07 01 at 6.39.05 PM
Cerpen Kritik Sosial

Suap Modin

“Apa benar Bu Sri pernah menjanjikan kepada mereka untuk diangkat menjadi modin dengan status PNS?”

Bu Sri sungguh terkejut mendengar pertanyaan barusan. Wajahnya langsung pucat. Ekspresi wajahnya terlihat panik. Kedua tangannya yang tadi terlihat biasa saja mulai dimasukan ke dalam kantong saku bajunya. Tanda kepanikan yang mulai menyergap. Tatapan matanya pias melihat si penanya yang duduk tetap di hadapannya, yang hanya dipisahkan meja kerja itu.

Dalam benaknya, Bu Sri berguman gelisah. Mimpi apa semalam. Tanpa ada angin dan hujan, tiba-tiba datang seorang wartawan yang menanyakan hal yang sudah terpendam lama. Lima tahun silam. Bahkan, Bu Sri sendiri sudah hampir lupa soal peristiwa itu.

Muka si penanya yang seperti sudah menanti jawaban, itu membuat Bu Sri semakin gelisah. Sementara di atas meja yang sama sudah ada alat perekam suara. Dan, itu membuat Bu Sri semakin sial. Kegugupannya pun berlipat ganda. Ingin rasanya segera mengakhiri pertemuan itu. Tapi sunggung tidak bisa. Si wartawan sejak awal sudah memperkenal diri dengan sopan, serta menyampaikan maksud dan tujuannya.

“Bagaimana Bu?” karena tak kunjung mendapat respon, si wartawan langsung melanjutkan pertanyaan pada pokok jawaban yang diharapkan.
Bukannya abai dan tidak mau menjawab pertanyaan si wartawan yang barusan diajukan. Jujur, dalam benaknya Bu Sri masih bingun. Sungguhlah bingung. Tidak tahu apa yang harus dilakukan. Bukan perkara tidak bisa menjawab. Tetapi, ini adalah kasus yang sudah lama sekali. Dan, dia pun merasa kalau perkara ini sudah tidak ada yang mengusik. Lalu, tiba-tiba datang seorang wartawan muda yang kembali mencoba mengungkap perkara yang bertahun-tahun ditimbunnya.

“Bagaimana bisa kasus ini kembali muncul dan diusik lagi,” gumannya. Bu Sri mencoba untuk bersikap tenang. Dia tahu, pada kondisi seperti ini, yang bisa dilakukan hanyalah tenang, dan sebisa mungkin mengatur ritme pembicaraan.

“Mau minum apa, saya buatkan kopi dulu, ya?” Bu Sri mulai menenangkan diri dengan gaya diplomasinya. Belum sempat si wartawan menjawab, Bu Sri sudah memanggil office boy.
“Karjo…!” Sejurus kemudian Karjo datang. Dialah yang selama ini menyiapakan pasugatan untuk para tamunnya Bu Sri. Usianya masih muda. Baru lulus SMA setengah tahun yang lalu. Dia anak dari desa yang mencoba mencari peruntungan di kota, hingga akhirnya bisa diterima sebagai office boy di kantor Kemenag tempat Bu Sri bekerja. Baginya, adalah sebuah kebanggaan bisa bekerja di kantor Kemenag, meski hanya tukang suruh.

Kebanggaan itu karena setiap hari bisa bertemu dan melayani pejabat. Kelak, dia juga memimpikan bisa menjadi seorang pejabat seperti halnya Bu Sri. Dan, keinginannya itu sudah tertanam sejak dalam pikiran sebagai wujud kesadaran kemakmuran. Untuk mewujudkannya, dia memilih bekerja sambil kuliah.

“Ya Bu.” Karjo yang sedari awal duduk di depan, di meja penerima tamu, masuk ke ruangan Bu Sri dengan kedua tangan berkacak pada perut dan kepala sedikit menunduk. Menandakan kesopanan yang menjadi cermin unggah-ungguh pegawai di kantor Kemenag. Terlebih bagi bawahan seperti dirinya.

“Ini Mas-nya dibuatkan kopi ya…” Kata Bu Sri dengan intonasi yang kalem.
“Ya Bu, sendiko.” Karjo pamit undur untuk segera membuatkan kopi tamunya Bu Sri.
Bu Sri mencoba mengalihkan perhatian dan mengulur waktu. “Silahkan dimakan camilannya. Mohon maaf, hanya seadaanya.” Bu Sri sudah mulai bisa menguasai perasaannya.
“Mas-nya sudah berkeluarga? Asli mana?” Kini gilirann Bu Sri yang malah bertanya.
“Belum Bu. Aslinya sini saja, Desa Karang, Kecamatan Randu.” Si wartawan paham bahwa pertanyaan Bu Sri hanya basa-basi. Tujuannya, mengulur waktu dan mengalihkan perhatian. Namun, si wartawan tetap tenang dan bisa menguasai keadaan.
“Enak juga ya Bu rengginangnya.”
“Bu Sri sudah berapa tahun menjadi PNS di Kemenag?” Si wartawan mencoba kembali menguasai keadaan dengan mencairkan suasana.
“Bu Sri bekerja di sini sudah lama sekali. Sekitar 25 tahun.” Sepintah Bu Sri sudah mulai tenang. Tatapan matanya tak lagi pias. Sesekali juga muncul guratan senyum pada kedua bibirnya yang mulai menua. Diusianya yang sudah lima puluh tahun lebih, sedianya Bu Sri ingin menikmati ketenangan dalam hidup. Bisa menjalankan setiap tugas dan tanggung jawab sebagai pegawai Kemenag dengan tenang. Tetapi, pertanyaan si wartawan itu mengusik ketenangannya yang mulai dibangun dalam beberapa tahun terakhir.

Bu Sri masih cukup ingat dengan perkara yang ditanyakan wartawan tadi. Seketika, ingatannya kembali terlempar di masa lima tahun yang lalu. Dia mencoba menyelami kembali persoalan yang pernah membelitnya. Tentu, juga melibatkan atasannya. Dalam benaknya, ini adalah masalah besar jika kembali diungkap.

Sebagai anak buah, kala itu Bu Sri tidak berpikir jauh ke depan bahwa kebijakan “shadow” terkait pengangkatan menjadi modin menjadi abdi negara itu akan berujung masalah. Bu Sri sadar tugas yang diterima dari atasannya itu salah. Melanggar aturan. Tapi, semua itu menjadi biasa karena sudah budaya: Ingin jadi pejabat, ya harus bayar, bukan hanya modin PNS saja. Dan, itu sudah menjadi tradisi turun-temurun. Rakyat juga tahu akan hal itu. Sudah rahasia publik.

Sialnya, tidak semua orang yang dijanjikan menjadi modin itu diangkat menjadi PNS. Padahal, mereka sudah membayar uang pelicin sekitar Rp 25 juta. Seingat Bu Sri, dari 120 calon modin yang sudah membayar uang pelicin, hanya separo saja yang direkomendasikan untuk diangkat. Itu kebijakan dari pemerintah pusat. Bu Sri panik. Uang pelicin sudah diterima dan dibagi dengan atasannya, atasannya atasan, dan atasannya atasan lagi. Habis.
Karena sudah menjadi keputusan dan kebijakaan pemerintah pusat, pemerintah daerah tidak bisa berbuat banyak. Akhirnya Bu Sri dan atasannya menggelar rapat terbatas (ratas).

Agendannya, mencari solusi atas masalah yang sedang dihadapi. Sebab, tidak mungkin uang pelicin yang sudah kadung diterima itu dikembalikan. Apa yang mau dikembalikan. Uangnya sudah habis dibagi dengan atasan, atasannya atasan, dan atasan atasannya lagi.
Singkat cerita, akhirya menemukan solusi yang menjadi kesepakatan jahat bersama: Mereka, para calon modin yang belum diangkat itu akan diangkat tahun berikutnya. Segeralah keputusan itu disampaikan kepada para modin yang belum diangkat. Lebih tepatnya gagal diangkat. Bu Sri sangat lega, karena hampir semua modin yang belum diangkat bisa menerima.

Setelah menunggu hampir setengah jam, Karjo akhirnya datang dengan membawa segelas kopi di atas nampan.
“Silahkan diminum kopinya,” ujar Bu Sri setelah Karjo menghidangkan kopi itu di atas meja. Si wartawan tersenyum.
“Ini mau dimuat di koran ya, Mas?” tanya Bu Sri, kembali berusaha mengendalikan keadaan.
“Iya,” jawab si wartawan.
“Oh,” Bu Sri menghela nafas. Tidak terlalu panjang, tapi helaan nafasnya cukup terasa, agak sedikit tertekan, namun berusaha untuk tetap tenang.
“Saya ingat-ingat dulu, karena itu sudah lama sekali. Lima tahunnan yang lalu.” kata Bu Sri merujuk pada pertanyaan awal si wartawan. Wajahnya sedikit menunduk, terlihat kegelisaan kembali menyergap. Sesekali melirik alat perekam yang ada di atas meja, seperti pistol yang sudah menodong tepat di hadapannya.
“Kalau tidak melihat data, saya tidak bisa menyampaikan. Sudah cukup lama, dan ingatan saya juga mulai sering lupa. Maklum, usia sudah tua, sebentar lagi pensiun,” katanya mulai mencari alasan yang tepat. Si wartawan sudah hafal watak seorang pejabat Kadipaten kala kepepet. Itu hanya alasan saja. Bagian dari berkilah.
“Tapi, soal membayar uang pelicin, itu benar apa tidak Bu?” Si wartawan kembali menegaskan pertanyaannya.
“Soal itu saya juga kurang tahu. La yang bilang siapa toh, Mas?” Bu Sri mulai memastikan dari mana informasi itu didapat. Karena jangankan dirinya, para calon modin yang dijanjikan bakal diangkat, pun sebagian besar sudah lupa. Lebih tepatnya mulai wegah mengungkit-ungkit masalah itu. Hampir setiap tahun jawaban yang disampaikan pejabat Kemenag sama. Alasannya belum ada kuota dari pemerintah pusat. Masih menunggu.
“Soal siapa yang menyampaikan, itu menyangkut kode etik. Saya tidak bisa menyampaikan Bu. Yang pasti, saya memiliki bukti dan korban yang sudah membayar uang pelicin juga siap dihadirkan jika memang dibutuhkan.” Si wartawan mulai tidak sabar, dan langsung pada titik poin persaolan dengan intonasi yang cukup meyakinkan.
“Karena saya harus melihat datanya dulu, bagaimana kalau besok, Mas-nya ke sini lagi.” Katanya ingin segera mengakhir pertemuan itu, sehingga bisa menyusun strategi untuk disiapkan esok hari.
“Ya, tidak apa-apa. Setidaknya saya sudah dapat konfirmasi awal,” ujar si wartawan sambil mematikan alat perekam yang sedari tadi merekam setiap pembicaraan, dan segera mohon undur diri.
“Apa tidak habiskan dulu kopinya?”
“Iya, terima kasih, tapi saya buru-buru. Terima kasih atas waktunya untuk wawancara,” si wartawan langsung bergegas melangkah menuju pintu keluar. “Oh iya, besok jam berapa Bu?”
“Siang ya, setelah Dzuhur,” jawab Bu Sri sambil berdiri dengan senyum tertekan. Si wartawan menganggukkan kepala lantas pamit.
Sangat mungkin setelah kejadian siang itu, seluruh jajaran pejabat Kemenag yang membidangi urusan per-modinan langsung merapatkan barisan. Menyusun strategi, membuat pemufakatan jahat. Mengamankan yang perlu diamankan, supaya kasus ini tidak masuk ke ranah hukum dan lari kemana-mana.

*
Semalam Bu Sri tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dia masih memikirkan pertanyaan si wartawan soal modin itu. Meski telah membuat pemufakatan jahat bersama pejabat Kemenag, dan dengan keyakinannya bahwa semua akan aman dan baik-baik saja. Namun, perasaannya masih gelisah. Dia hanya bisa duduk termangu dengan tatapan matanya yang terpias lurus. Tapi, bukan dinding tembok yang masuk ke dalam kepalanya, melainkan kesalahan-kesalahan yang pernah dia lakukan lima tahun silam, yang kini mulai diusik kembali. Matanya mulai nampak kalup akibat menahan kantuk.
“Kamu kenapa kok belum tidur?” kata Pak Pri, suami Bu Sri yang terbangun dari tidurnya.
“Tidak apa-apa, Pak. Ini juga mau tidur,” Bu Sri mencoba menenangkan suaminya yang sendang nglilir. Bu Sri mulai merebahkan badan. Dengan perlahan, kedua matanya mulai terpejam.
Sewaktu pagi tiba, bunyi lemparan koran yang menjadi langganannya itu terdengar tepat di teras rumahnya. Bu Sri bersicapet membuka pintu dan menyambar koran yang masih terlipat rapi itu. Dengan cekatan, dia langsung membuka pada halaman berita Kadipaten. Pada halaman itu, nampak judul dengan huruf-huruf raksasa: JANJIKAN DIANGKAT PEJABAT KADIPATEN, CALON MODIN BAYAR UANG PELICIN RP 25 JUTA?.
Seketika saja Bu Sri langsung lunglai. Kepalanya seperti berputar-putar. Ingin rasanya segera bangun. Tapi, ternyata bukan mimpi.
“Tenang Bu, semua bisa diselesaikan.” Pak Pri seperti sudah tahu masalah yang dihadapi istrinya.
“Mending sekarang Ibu segera mandi, setelah itu berangkat ke kantor. Nanti diselesaikan di kantor,” pinta Pak Pri. Dan, segera Bu Sri langsung berdiri. Dalam benaknya, dia pun tidak sabar ingin segera menyelsaikan masalah ini dan bertemu dengan si wartawan yang kemarin siang sudah mengusik perasaannya itu.

**
Amunisi sudah disiapkan oleh Bu Sri. Plan A dan plan B. Plan A adalah pola diplomasi, sedangkan plan B adalah pola eksekusi. Dalam benaknya, dia menilai semua wartawan sama.
“Monggo, silahkan duduk,” kata Bu Sri setelah menjawab salam dari wartawan itu.
“Kok sudah dimuat di koran?” Bu Sri seperti tidak ingin berbasa basi. Suaranya datar. Seperti ingin langsung pada pokok persoalan, dan masalah yang dihadapi segera tuntas. Diusianya yang sudah paruh baya, Bu Sri tidak sekuat dulu dalam menghadapi masalah. Semua menjadi terasa berat. Sungguh-sungguhlah berat. Menguras pikiran dan menyita seluruh waktunya.
“Bukannya kemarin saya sudah wawancara Bu Sri. Lengkap dengan alat perekam. Bu Sri juga melihat itu,” si wartawan menegaskan, bahwa tidak ada yang salah dari berita yang pagi itu mengejutkan Bu Sri.
“Saya pikir kemarin tidak jadi ditulis, sebab baru hari ini saya bisa memberikan jawaban,” katanya dengan tatapan pias tepat di hadapan si wartawan. Terlihat ada guratan kemarahan dan kecemasan dari tatapannya yang pias itu. “Gini saja, sekarang anda inginkan apa?” Kali ini Bu Sri memanggil si wartawan dengan sebutan anda. Tanda mulai tidak suka dengan si wartawan.
Mendengar itu, si wartawan mencoba untuk tetap tenang dengan memasang senyum keterpaksaan. Sedianya, dia tidak ingin senyum. Muak lebih tepatnya. Si wartawan paham betul dengan watak para pejabat yang seperti Bu Sri. Kebiasaan mencari alasan untuk pembenaran.
“Saya tidak ingin apa-apa Bu. Saya hanya ingin memastikan pertanyaan saya yang kemarin. Apa benar Bu Sri menjanjikan kepada mereka akan diangkat menjadi modin Kemenag, tapi dengan syarat membayar uang pelicin 25 juta?”
Meski sudah yakin bahwa perkara yang sedang dihadapi tidak akan bertuntut panjang, karena sumua sudah terkondisikan. Namun, ekspresi wajah Bu Sri tidak bisa dibohongi. Ekspresi wajahnya terlihat panik. Ada keringat di dahinya. Tatapan matanya juga tidak jelas arah. Seperti tidak ingin kepanikannya terbaca lawan bicara di depannya itu.
“Apa masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan baik-baik.” Bu Sri mulai membenari penawaran dari dua plan yang sudah disiapkan tadi.
“Maksudnya Bu?”
“Begini. Ini ada sedikit uang untuk Mas-nya, tapi masalah ini saya minta tidak usah dilanjutkan. Cukup beritanya hari ini saja.” Bu Sri mencoba menawarkan plan A: diplomasi.
Si wartawan yang duduk di depannya tersenyum tipis. Tebakannya tepat. Watak pejabat memang demikian. Tapi tidak semua. Khusus untuk Bu Sri, baginya, segala persoalan bisa diselesaikan dengan uang. Tapi dia salah. Si wartawan yang sedang dihadapinya itu tidak seperti wartawan yang biasanya menghadap.
“Simpan saja kepingan uang itu Bu. Tujuan saya tidak untuk itu. Pertanyaan itu yang dibutuhkan adalah jawaban, bukan segebok uang. Saya mohon undur diri. Kiranya wawancara sudah cukup Bu. Terima kasih atas waktunya.” Si wartawan mencoba mengakhiri pertemuan yang menjengahkan itu.
Kali ini Bu Sri termangu. Terpaku dalam duduknya, dan hanya bisa diam. Seperti tidak percaya. Sesaat setelah si wartawan memberikan salam, Bu Sri baru tersadar. Dan, si wartawan sudah siap pada posisi membuka gagang pintu. Seketika itu Bu Sri terjingkat dari duduknya. Berdiri. Antara canggung, bingung, dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Pikirannya semakin tidak tenang. Kacau. Sungguh-sungguh kacau. Tapi, semua sudah kadung terjadi.
Esok harinya berita soal modin itu kembali muncul dengan bantahan yang disampaikan Bu Sri hingga beberapa hari ke depan. Namun, semua itu hanya berakhir pada pemberitaan. Tidak pernah ada proses hukum yang berjalan.(*)
Tuban, 20 Juni 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *