Ilustrasi Cerpen Ulin
Cerpen Kritik Sosial

Ulin

Ulin lahir sama seperti bayi-bayi yang lain. Lahir dengan normal. Juga tidak kurang apapun. Fisiknya lengkap. Memiliki kulit bersih. Pipinya motok dan halus. Mungil. Guratan wajahnya juga menyimpan bakat ketampanan. Semua menyayanginya, orang tuanya, neneknya, serta sanak keluarga yang lain. Tetangganya juga.

Tetapi, siapa sangka segala bentuk macam kebagusan yang menyertai kelahiran Ulin itu runtuh. Seruntuh runtuhnya setelah usianya menginjak satu tahun. Orang tuanya, Sunoto dan Sumiah bercerai saat bocah terlahir dengan nama lengkap Ulin Mubarok itu masih tengkurap. Usianya sekitar satu tahun.

Faktor ekonomi menjadi alasan perceraian orang tuanya. Alasan klasik bagi kaum-kaum suka cerai. Sejak perceraian itu, Sunoto tidak diketahui keberadaannya. Entah pergi ke mana tidak ada yang tahu. Juga tidak pernah mengurusi buah hatinya lagi. Sama sekali. Menjenguk pun tidak. Jangankan menjenguk, menanyakan kabar darah dagingnya pun tidak.

Ada yang bilang, setelah perceraiannya dengan Sumiah, Sunoto merantau ke Surabaya. Pernah tetangga melihat dia menjadi kuli bangunan di Kota Pahlawan itu. Tetapi, ada juga bilang kalau Sunoto pergi ke Jakarta dan menikah dengan wanita lain.

Mana yang benar? Tidak ada yang tahu. Bisa jadi keduanya benar. Setelah dari Surabaya, Sunoto lanjut merantau ke Jakarta. Dan di Ibu Kota itulah dia menemukan tambatan hatinya yang baru, lalu dinikahinya. Ah, semua itu tidak penting. Yang jelas, dia laki-laki berengsek. Mau enaknya saja. Dia kira berumah tangga itu hanya urusan selangkangan. Bgst. Dasar laki-laki tidak bertanggung jawab.

Tidak beda jauh dengan Sunoto, setelah masa iddah-nya habis, empat bulan sepuluh hari, Sumiah menikah dengan laki-laki lain, Suripto. Tetangga desa. Masih satu kecamatan. Awalnya, Suripto adalah ayah yang baik. Tetapi, lama-lama kebaikan bapak tirinya itu mulai berujung.

Kebahagiaan hanya sesaat. Sekaligus menjadi titik awal penderitaan Ulin. Titik awal akan meruntuhkan masa depannya. Seruntuh runtuhnya. Remuk redam, berkeping-keping, dan tidak akan bisa dirajut kembali menjadi bangunan masa depan yang utuh.

Semua itu berawal saat ibunya, Sumiah memilih untuk ikut suaminya. Meninggalkan darah dagingnya, meninggalkan desanya dengan alasan kerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sejak saat itu, Ulin menginjak usia dua tahun dan mulai bisa trantanan tinggal bersama Sumarni, neneknya, yang usianya sekitar 60 tahun. Mungkin lebih, dia sendiri sudah lupa kapan tanggal lahirnya.

Yang diingat hanya tahunnya. Tahun di mana Indonesia belum merdeka sepenuhnya. Keluaraga dekatnya juga tidak ada yang tahu kapan pastinya dia lahir. Katanya, yang tercatat di kartu tanda penduduk (KTP) juga asal kira, daripada kosong.

Sumarni tinggal sendiri. Suaminya, Sukiran sudah meninggal empat tahun lalu. Dan, sekarang anak satu-satunya itu juga meninggalkannya. Tidak hanya dirinya, tapi juga anaknya. darah dagingnya.

Meski telah tega meninggalkan orang tua dan buah hatinya demi lanangannya. Untuk kebutuhan bulanan Sumiah masih rutin berkirim uang.

Waktu terus berjalan. Ulin telah berusia tiga tahun. Itu artinya, sudah setahun dia ditinggal ibunya. Saat usianya menginjak tiga tahun itulah mulai tampak ada keanehan pada diri Ulin. Dia menjadi anak hiperaktif. Tidak bisa diam dan duduk manis layaknya anak-anak yang lain. Selalu ingin tahu. Terus bergerak. Apa saja yang ada di depannya diambil dan dirusak.

Tidak pernah ada yang tahu apa yang menyebabkan Ulin berubah seperti itu. Keterangan bidan desa memeriksa kondisi kesehatan Ulin saat sesekali ikut posyandu, katanya, dalam banyak kasus, bocah hiperaktif masuk dalam kategori berkebutuhan khusus seperti halnya autis. Sehingga membutuhkan penanganan khusus untuk bisa kembali normal, seperti anak-anak kecil lain.

Penanganan khusus! Apa itu penanganan khusus? Mana tahu Sumarni. Jangankan penanganan khusus, perempuan yang lahir saat berlangsungnya agresi militer Belanda II itu, autis saja tidak tahu. Sumarni tidak pernah sekolah. Baca dan tulis juga tidak bisa. Tapi, kalau urusan gambar uang dia masih tahu. Lagi pula uang dari mana untuk melakukan perawatan dengan penanganan khusus seperti yang disarankan Bu Bidan.

Uang bulanan yang dikirim Sumiah hanya cukup untuk makan. Itupun kadang masih kurang-kurang, sehingga Sumarni tetap harus bekerja. Menghibahkan seluruh sisa tenaga yang ia punya. Kepada siapa saja yang membutuhkan tenaganya. Dia pantang mengemis. Apa saja yang sanggup ia kerjakan akan dikerjakan dengan tangan keriputnya, dengan sekuat tenaga. Mulai angon kambing, membersihkan kandang sapi, membersihkan rumah, dan semua pekerjaan lain tetangganya butuhkan, akan ia kerjakan. Kadang tetangganya tidak tega. Tetapi, dia selalu menolak saat hendak diberi uang dengan cuma-cuma.

Karena dengan segala keterbatasan dan kemiskinannya itulah, tidak ada penanganan khusus diberikan kepada Ulin, hingga akhirnya tumbuh menjadi anak menderita autis parah. Semua sudah terlambat seiring dengan usianya yang terus bertambah.

***

Sumiah hanya pulang setahun sekali menjenguk buah hatinya dan Sumarni, ibu kandungnya. Itu pun saat momen Lebaran. Setelah itu pergi lagi. Dia sudah tahu anaknya menderita autis, setahun lalu, saat usia anaknya menginjak tiga tahun, menjelang kepulangannya yang pertama setelah memutuskan ikut suaminya.

Dia mendapat kabar anaknya autis tersebut dari tetangganya. Seperti biasa, jika kangen, Sumiah menelpon tetangganya untuk sekadar menanyakan kondisi anak dan orang tuanya, tapi dia tidak pernah jujur soal keberadaannya.

Kata Sumarni, anaknya tinggal di Surabaya, tapi kata perangkat desa dan pejabat kecamatan dia terdeteksi bekerja di luar negeri. Malaysia.

“Sanjange teng Suroboyo (Bilangnya di Surabaya, Red),” ujar Sumarni kepada Ruhana, wartawati ingin mengulik kisah Ulin. Tujuannya, tidak lain agar mendapat perhatian pemerintah.

Padahal, kepulangan Sumiah selalu menjadi momen istimewa bagi bocah berambut pelontos itu. Selama ibu kandungnya tersebut berada di rumah, Ulin bisa bersikap tenang dan nurut. Tidak lagi agresif. Dia mau memakai baju. Tidak seperti biasanya, yang setiap kali dipakaikan baju selalu dilepas. Perilakunya juga manja. Menunjukkan sifat khas bocah butuh kasih-sayang dari orang tuanya.

Tetapi, begitu Sumiah balik ke perantauan dan tidak pernah kembali lagi, sifat pemberontakan Ulin seketika muncul. Baju dikenakan selalu dilepas dan dibuang, hingga benar-benar menjadi anak hiperaktif. Sering marah-marah dan berteriak-teriak tidak jelas. Semua yang ada di depannya juga dirusak. Tidak terkecuali barang-barang milik tetangga. Tidak hanya sekali, tapi sering.

Saking seringnya, Sumarni kerap menjadi pelampiasan amarah tetangganya yang tidak terima dengan ulah cucunya. Namun, tidak sedikit juga tetangga memaklumi ulah Ulin. Bahkan, terkadang juga kasihan dengan Sumarni, sehingga cukup permintaan maaf. Tetangga demikian biasanya memiliki hati yang mulia. Welas asih. Mereka tahu, bahwa mengasuh anak berkubutuhan khusus adalah beban yang sangat berat. Apalagi, untuk orang yang setua itu.

Yang dipunya Sumarni hanyalah curahan kasih sayang untuk cucunya. Baginya, segala kesalahan dilakukan cucunya adalah tanggungjawabnya. Apapun konsekuensinya, dia siap menanggung demi cucu satu-satunya itu. Mulai dari lampiasan amarah hingga harus mengganti barang-barang yang dirusak cucunya. Dengan apa? Dengan segala yang dia punya. Tenaga tuanya masih sanggup untuk menebus kesalahan cucunya.

Tidak tahan dengan perilaku Ulin yang semakin membahayakan, Sumarni memutuskan untuk mengikat cucunya dengan tali tampar. Layaknya hewan. Tapi baginya itu adalah ikatan kasih sayang, agar cucunya tidak membahayakan orang dan dirinya sendiri. Diikatnya tali tampar itu pada kakinya dan pada ujung lainnya diikat pada blandar rumah. Kadang juga di pohon jambu depan rumah saat sedang bermain di luar.

Semakin bertambah tahun, kondisi Ulin semakin memprihatinkan. Badannya kurus dan wajahnya semakin tirus, sampai tulang-tulangnya kelihatanya. Juga terlihat dekil, karena tidak mau dimandikan lagi. Setiap kali hendak dimandikan, dia berlarian kesana-kemari.

Tenaga tua Sumarni sudah tidak sanggup lagi untuk mengendalikannya, memaksanya untuk mandi. Tenaganya sudah kalah dengan cucunya, meski usianya baru menginjak tujuh tahun. Sumarni ngos-ngosan kala mengejar cucunya yang terus berlari. Sungguh sudah tidak sanggup lagi. Sumarni menyerah. Membiarkannya tidak mandi menjadi pilihan terakhir. Kini Ulin benar-benar jarang mandi. Baru mandi kala hatinya senang.

“Nek atine dereng bolong gih dereng purun adus,” kata Sumarni sambil menatap cucunya sedang kelesotan di pelataran rumah. Bermain tanah. Tetapi, tidak jelas sedang apa. “Gih niku sak bendintene, klesoten ngoten niku,” Sumarni melanjutkan.

Ulin sebenarnya bocah normal. Yang membedakan Ulin dengan bocah seusianya adalah pembawaannya yang hiperaktif. Kata Sumarni, sejak kecil cucunya itu tak pernah sakit serius. “Namung pilek ping pindo,” kata Sumarni dengan wajah yang mulai menua dengan guratan-guratan kulit keriput di pipinya, di keningnya, di lehernya, tangan, kaki, semua mulai keriput dengan uban yang mulai menguasai seluruh rambutnya. Memutih.

Sumarni pun merasa aneh dan tidak percaya melihat tumbuh kembang cucunya seperti itu. Ada kesedihan mendalam dia rasakan, tapi bukan kesedihan bagi dirinya. Melainkan sedih melihat cucunya demikian. Masa depannya telah terenggut. Entah siapa merenggut, ada ekspresi kekecewaan pada setiap lekuk wajahnya. Dalam, dalam sekali kekecewaannya. Ingin rasanya dia berteriak sekeras-kerasanya: Sumiah…………………!!! Kowe nondi Sumiah…………………!!! Iki anakmu butuh kasih sayang Ibu e Sumiah………………!!!

Hening. Sumarni terdiam. Mematung. Membisu. Tak ada kata yang terucap. Tiba-tiba air matanya mentes. Ia menumpahkan kesedihan yang sedari tadi di bendungnya. Ketabahan hati Sumarni runtuh, remuk redam kala mengingat semua kenangan indah dan kasih sayang diberikan kepada anak semata wayangnya yang sekarang menelantarkan cucunya, darah dagingnya sendiri.

Bukan tidak ikhlas. Juga tidak ada sebait pun penyesalan atas curahan kasih sayang yang telah diberikan. Tetapi semua itu rasanya pedih, hatinya seperti tersayat-sayat saat melihat cucunya ditinggal begitu saja tanpa kasih sayang orang tua. Setiap mengingat itu semua Sumarni seperti merasakan ada luka basah dalam hatinya yang disentuh berulang-ulang. Perih. Sakit. Makin basah dan makin dalam luka itu menghunjam dadanya.

“Sabar Mbah!” Ruhana yang sedari tadi di samping Sumarni mencoba menenangkan. Dia merasakan betul apa yang dirasakan Sumarni. Terpindai dalam perasaannya. Hati nenek itu remuk, seremuk-remuknya. Tetapi, badanya berusaha untuk tetap tegar, karena hanya dia satu-satunya sandaran hidup Ulin sekarang ini.

“Kulo seng sedih niku, nek mangke kulo sampun mati, sinten ingkang momong Ulin.” Air matanya kembali menetes. Semakin deras. Pipinya basah. Ruhana mengelus pundak Sumarni dengan terus membisikan kata sabar. Tanpa disadari tiba-tiba air matanya turut menetes, tak lagi sanggup ditahan. Tumpah. Membahasi pipinya yang halus. Membentuk lautan air mata.

Ruhana sudah tidak sanggup lagi melanjutkan wawancara. Cukup dengan apa yang dilihat dan yang dirasakan. Semua akan ditulis hingga berlembar-lembar atau mungkin cerita yang sangat amat panjang. Dan, semua itu akan ditulis dengan hati, dengan perasaan yang sangat dalam setelah memindai semua penderitaan Ulin dan Sumarni.

***

Ulin duduk terdiam dengan telanjang bulat. Tanpa selembar kain pun menempel di tubuh dekilnya. Selama berdiam diri, dia lebih banyak diam. Tatapan matanya kosong. Sumarni dan Ruhana mengamatinya dari jarak sekitar lima meter.

Bocah itu langsung beranjak berdiri saat Ruhana hendak mendekatinya. Ekspresinya pun berubah. Sambil menatap, dia tersenyum lebar. Meski beberapa kali dijepret kamera, bocah itu tetap fokus menatap. Mungkin, karena tak mengenali orang yang mendatanginya, dia melambaikan tangan ke arah Sumarni, neneknya setelah sebelumnya menoleh kanan-kiri.

Di usia tujuh tahun Ulin sangat agresif. Semua benda asing di sekitarnya ditarik. Kalau tidak kena, dia berusaha keras untuk merebutnya. Ruhana mencoba mengulurkan booknote kepadanya. Secepat kilat, bocah itu menyambar. Tapi tiba-tiba booknote yang sudah di tangannya itu dilempar. Tak hanya benda di sekitarnya. Baju yang dikenakan pun selalu dilepas dan dibuang.

Sifat agresif luar biasa itulah yang menjadi alasan Sumarni untuk menyancang bocah tersebut.

Mungkin, kalau orang mengasuh Ulin berpendidikan dan mendapat kasih sayang orang tuanya, kondisinya tidak separah itu. Tapi, karena tinggal dengan neneknya yang tidak berpendidikan dan miskin, hiperaktif Ulin dianggap sebagai penyakit kejiwaan seperti halnya gila.

Semakin lama perlakukan diterima Ulin semakin tidak manusiawi. “Kulo cancang niki supados mboten ten pundi-pundi,” kata Sumarni seperti ada kebingungan yang mendalam. Tidak tahu apa harus dilakukan untuk merawat bocah sekecil itu yang hiperaktif. Mungkin dalam benaknya, Sumarni ingin menangis, tapi sudah tidak ada air mata yang tersisa. Ada perasaan nelangsa, kecewa, dan rasa sakit begitu dalam. Ingat semua kenangan masa bahagianya, saat masih bersama suaminya, Darminto. Dia ingat anaknya. Entah ke mana.

***

Gigi-gigi ulin semakin tajam. Tali tampar digunakan Sumarni untuk mengikat tangannya selalu putus digigitnya. Awalnya beberapa kali. Berikutnya berkali-kali. Hingga akhirnya diganti dengan rantai. Ruhana mulai tidak sanggup untuk melanjutkan tulisannya. Tangannya gemetar. Jiwanya terhuyung.

Perasaannya seperti teriris-iris kala terbayang wajah Ulin. Sungguh tidak tega. Dia seakan diperlakukan seperti binatang. Selalu terbayang-bayang dalam setiap memori ingatannya. Bocah polos itu dituntun Sumarni dengan kondisi telanjang bulat, dengan rantai terikat di pegelangan tangannya. Diperlakukan seperti hewan. Dituntun menuju kamarnya, dengan kondisi ruangan sangat tidak layak.

Di kamar. Di ruang kecil pengap berlantaikan tanah itu Ulin terperangkap. Terkurung di balik jeruji masa kecil tanpa kasih sayang orang tua. Dari sudut pintu yang terbuka, di kamar kecil yang berhimpitan dengan kandang kambing itu Ulin terlihat meringkuk di sudut dipan yang hanya beralaskan galar. Sesekali bau kotoran tercium menyengat dari dalam kamar. Juga dengan embekan kambing terdengar jelas saat kambing-kambing itu mulai lapar. Ada dua kambing, dan itulah satu-satunya harta yang bisa dijual, yang dimiliki Sumarni. Hasil upah mengembala kambing tetangga beberapa tahun.

Kelengkapan penderitaan yang dialami Ulin, itu semua kerena keterlambatan dalam memberikan penanganan. Kabarnya, pejabat kecamatan sudah mengetahui. Katanya, dari hasil pemeriksaan dokter Ulin dinyatakan cacat mental permanen. Salah satu faktornya adalah kekurangan gizi. Ruhana ingin memaki. Ditahannya kuat-kuat perasaan marahnya itu. Dasar pejabat, tidak pernah tuntas mengurus rakyatnya yang melarat. Hati Ruhana memberontak. Tapi, tiba-tiba air matanya menetes. Pipinya basah. Dia biarkan air matanya mengalir. Tangannya yang gemetar terus menulis. Ada rasa dalam setiap bait tulisannya. Sebuah kepedihan yang sangat mendalam.

Ruhana bangkit. Dia tidak sanggup meneruskan tulisannya. (*)

Tuban, 25 Juni 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *